Jam kyu

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 28, 2013

Penjas

Penjas

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.
Per definisi, pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung.
Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh.
Sungguh, pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam ‘pikiran dan tubuh’ yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.
Kesatuan Jiwa dan Raga
Salah satu pertanyaan sulit di sepanjang jaman adalah pemisahan antara jiwa dan raga atau tubuh. Kepercayaan umum menyatakan bahwa jiwa dan raga terpisah, dengan penekanan berlebihan pada satu sisi tertentu, disebut dualisme, yang mengarah pada penghormatan lebih pada jiwa, dan menempatkan kegiatan fisik secara lebih inferior.
Pandangan yang berbeda lahir dari filsafat monisme, yaitu suatu kepercayaan yang memenangkan kesatuan tubuh dan jiwa. Kita bisa melacak pandangan ini dari pandangan Athena Kuno, dengan konsepnya “jiwa yang baik di dalam raga yang baik.” Moto tersebut sering dipertimbangkan sebagai pernyataan ideal dari tujuan pendidikan jasmani tradisional: aktivitas fisik mengembangkan seluruh aspek dari tubuh; yaitu jiwa, tubuh, dan spirit. Tepatlah ungkapan Zeigler bahwa fokus dari bidang pendidikan jasmani adalah aktivitas fisik yang mengembangkan, bukan semata-mata aktivitas fisik itu sendiri. Selalu terdapat tujuan pengembangan manusia dalam program pendidikan jasmani.
Akan tetapi, pertanyaan nyata yang harus dikedepankan di sini bukanlah ‘apakah kita percaya terhadap konsep holistik tentang pendidikan jasmani, tetapi, apakah konsep tersebut saat ini bersifat dominan dalam masyarakat kita atau di antara pengemban tugas penjas sendiri?
Dalam masyarakat sendiri, konsep dan kepercayaan terhadap pandangan dualisme di atas masih kuat berlaku. Bahkan termasuk juga pada sebagian besar guru penjas sendiri, barangkali pandangan demikian masih kuat mengakar, entah akibat dari kurangnya pemahaman terhadap falsafah penjas sendiri, maupun karena kuatnya kepercayaan itu. Yang pasti, masih banyak guru penjas yang sangat jauh dari menyadari terhadap peranan dan fungsi pendidikan jasmani di sekolah-sekolah, sehingga proses pembelajaran penjas di sekolahnya masih lebih banyak ditekankan pada program yang berat sebelah pada aspek fisik semata-mata. Bahkan, dalam kasus Indonesia, penekanan yang berat itu masih dipandang labih baik, karena ironisnya, justru program pendidikan jasmani di kita malahan tidak ditekankan ke mana-mana. Itu karena pandangan yang sudah lebih parah, yang memandang bahwa program penjas dipandang tidak penting sama sekali.
Nilai-nilai yang dikandung penjas untuk mengembangkan manusia utuh menyeluruh, sungguh masih jauh dari kesadaran dan pengakuan masyarakat kita. Ini bersumber dan disebabkan oleh kenyataan pelaksanaan praktik penjas di lapangan. Teramat banyak kasus atau contoh di mana orang menolak manfaat atau nilai positif dari penjas dengan menunjuk pada kurang bernilai dan tidak seimbangnya program pendidikan jasmani di lapangan seperti yang dapat mereka lihat. Perbedaan atau kesenjangan antara apa yang kita percayai dan apa yang kita praktikkan (gap antara teori dan praktek) adalah sebuah duri dalam bidang pendidikan jasmani kita.
Hubungan Pendidikan Jasmani dengan Bermain dan Olahraga
Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat. Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat.
Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.
Lalu bagaimana dengan rekreasi dan dansa (dance)?
Para ahli memandang bahwa rekreasi adalah aktivitas untuk mengisi waktu senggang. Akan tetapi, rekreasi dapat pula memenuhi salah satu definisi “penggunaan berharga dari waktu luang.” Dalam pandangan itu, aktivitas diseleksi oleh individu sebagai fungsi memperbaharui ulang kondisi fisik dan jiwa, sehingga tidak berarti hanya membuang-buang waktu atau membunuh waktu. Rekreasi adalah aktivitas yang menyehatkan pada aspek fisik, mental dan sosial. Jay B. Nash menggambarkan bahwa rekreasi adalah pelengkap dari kerja, dan karenanya merupakan kebutuhan semua orang.
Dengan demikian, penekanan dari rekreasi adalah dalam nuansa “mencipta kembali” (re-creation) orang tersebut, upaya revitalisasi tubuh dan jiwa yang terwujud karena ‘menjauh’ dari aktivitas rutin dan kondisi yang menekan dalam kehidupan sehari-hari. Landasan kependidikan dari rekreasi karenanya kini diangkat kembali, sehingga sering diistilahkan dengan pendidikan rekreasi, yang tujuan utamanya adalah mendidik orang dalam bagaimana memanfaatkan waktu senggang mereka.
Sedangkan dansa adalah aktivitas gerak ritmis yang biasanya dilakukan dengan iringan musik, kadang dipandang sebagai sebuah alat ungkap atau ekspresi dari suatu lingkup budaya tertentu, yang pada perkembangannya digunakan untuk hiburan dan memperoleh kesenangan, di samping sebagai alat untuk menjalin komunikasi dan pergaulan, di samping sebagai kegiatan yang menyehatkan.
Di Amerika, dansa menjadi bagian dari program pendidikan jasmani, karena dipandang sebagai alat untuk membina perbendaharaan dan pengalaman gerak anak, di samping untuk meningkatkan kebugaran jasmani serta pewarisan nilai-nilai. Meskipun menjadi bagian penjas, dansa sendiri masih dianggap sebagai cabang dari seni. Kemungkinan bahwa dansa digunakan dalam penjas terutama karena hasilnya yang mampu mengembangkan orientasi gerak tubuh. Bahkan ditengarai bahwa aspek seni dari dansa dipandang mampu mengurangi kecenderungan penjas agar tidak terlalu berorientasi kompetitif dengan memasukkan unsur estetikanya. Jadi sifatnya untuk melengkapi fungsi dan peranan penjas dalam membentuk manusia yang utuh seperti diungkap di bagian-bagian awal naskah ini.

The Conditional Tense

The Conditional Tense

Notes:
  1. The written lesson is below.
  2. Links to quizzes, tests, etc. are to the left.

Frequently, the conditional is used to express probability, possibility, wonder or conjecture, and is usually translated as would, could, must have or probably.
The student said that he would study one more hour. (probability, possibility)
What time could it have been? (wonder, conjecture)
He must have been at home. (wonder, conjecture)
We were probably busy when you called. (probability, possibility)
Note: when "would" is used in the sense of a repeated action in the past, the imperfect is used.


To conjugate regular -ar, -er and -ir verbs in the conditional, simply add one of the following to the infintive:
ía
ías
ía
íamos
íais
ían



Here are all three regular conditional verb forms together:
hablar comer vivir
hablaría comería viviría
hablarías comerías vivirías
hablaría comería viviría
hablaríamos comeríamos viviríamos
hablaríais comeríais viviríais
hablarían comerían vivirían


Here are the previous examples, translated to Spanish.
El alumno dijo que estudiaría una hora más.
The student said that he would study one more hour.
¿Qué hora sería?
What time could it have been?
Estaría en su casa.
He must have been at home.
Estaríamos ocupados cuando llamaste.
We were probably busy when you called.


The same twelve common verbs that are irregular in the future tense are also irregular in the conditional tense. Their endings are regular, but their stems change in the same way they change in the future tense. Because the endings are the same as all other conditional tense verbs, we show only the "yo" form, and have underlined the irregular stem. We have also grouped them according to their patterns of change.
caber
yo cabría
poner
yo pondría
decir
yo diría
haber
yo habría
salir
yo saldría
hacer
yo haría
poder
yo podría
tener
yo tendría
querer
yo querría
valer
yo valdría
saber
yo sabría
venir
yo vendría


Next, let's look at some specific uses of the conditional.
To express speculation about the past:
Aquél día correrían más de veinticinco kilómetros.
That day they must have run more than 25 kilometers.
To express the future from the perspective of the past:
Yo sabía que abrirían la tienda a las siete.
I knew that they would open the store at seven o'clock.
To express hypothetical actions or events which may or may not occur:
Sería interesante estudiar chino.
It would be interesting to study Chinese.
To indicate what would happen were it not for some certain specific circumstance:
Yo viajaría pero no tengo dinero.
I would travel but I don't have money.
For polite use to soften requests:
Por favor, ¿podría decirme a qué hora abre la gasolinera?
Could you please tell me what time the gas station opens?
To ask for advice:
¿Cuál compraría Ud.?
Which one would you buy?
For reported speech:
Juan dijo que terminaría el trabajo.
Juan said that he would finish the work.
To express what would be done in a particular situation:
¿Hablarías inglés en España?
Would you speak English in Spain?
No. Hablaría español.
No. I would speak Spanish.


Let's look at one more use of the conditional.
To express an action which is contrary to fact:
Si yo tuviera tiempo, iría al cine esta noche.
If I had time, I would go to the movies tonight.
Note: This last example uses a verb tense you are not yet familiar with -- the imperfect subjunctive (tuviera). This topic will be covered in depth in a later lesson.


Finally, a few words need to be said to call attention to the contrasting uses of the future and the conditional. As previously stated, the conditional is used for conjecture and to express probability with regards to a past action, as in the following example:
¿Qué hora sería?
What time could it have been?
Serían las cinco.
It was probably five o'clock.
If, however, the conjecture or expression of probability is about the present, the future tense is used:
¿Qué hora será?
What time can it be?
Serán las cinco.
It is probably five o'clock.


With regards to reported speech, notice that if the main clause is in the past, the conditional is used.
Juan dijo que terminaría el trabajo.
Juan said that he would finish the work.
But if the main clause is in the present, the future is used.
Juan dice que terminará el trabajo.
Juan says that he will finish the work.


Let's add two flashcards for the conditional tense:

Verb Flashcards
Complete List

Conditional Tense
Infinitive + ending
(-ía, -ías, -ía, -íamos, -íais, -ían)

Conditional Tense Irregulars
caber
yo cabría
poner
yo pondría
decir
yo diría
haber
yo habría
salir
yo saldría
hacer
yo haría
poder
yo podría
tener
yo tendría
querer
yo querría
valer
yo valdría
saber
yo sabría
venir
yo vendría

Senu budaya

Musik Klasik di Indonesia

 
Musik Klasik di Indonesia

Masyarakat di Indonesia umumnya mengenal musik klasik pertama kali dari instrumen-instrumen non orkestral, seperti gitar dan piano (bahkan juga electone atau Organ) yang ditawarkan dalam kursuskursus musik. Walaupun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa tak satupun dari mereka menolak kenyataan bahwa musik orkestra merupakan puncak artistik musik klasik. Dalam kenyataannya di awal abad ke-21 ini orkestra-orkestra Indonesia yang kini jumlahnya semakin banyak lebih sering mengiringi pertunjukan-pertunjukan musik populer daripada musik klasik. Pada saat yang sama tradisi bulanan seperti konser musik orkestra seperti yang pernah dilakukan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta yang disiarkan melalui siaran TV, atau program-program Nusantara Chamber Orchestra hingga kira-kira tahun 1990-an mulai tergeser oleh semaraknya musik populer.


1. Orkestra di Indonesia

Walaupun bukan termasuk negara termakmur di kawasan Asia Tenggara, perkembangan orkestra di Indonesia cukup pesat. Hingga kini bisnis orkestra terpusat di Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia. Hingga kini di Jakarta ada sekitar 8 hingga 10 orkestra profesional. Keberadaan orkestra-orkestra tersebut merupakan akumulasi dari upaya seniman-seniman musik yang umumnya datang dari latar belakang kehidupan musik non klasik, upaya penyandang dana yang menaruh perhatian terhadap orkestra, pengaransir orkestra, musisi, dan komposer cukup besar.


2. Orkestra Klasik

Keberadaan orkestra Indonesia yang murni membawakan musik klasik saat ini semakin mengalami krisis. Kebanyakan orkestra klasik juga membawakan musik hiburan atau pop. Hingga kira-kira pertengahan tahun 1990-an orkestra-orkestra klasik profesional yang masih aktif di antaranya ialah Orkes Simfoni Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta dan Nusantara Chamber Orchestra (NCO) yang memiliki tradisi konserkonser bulanan. Tidak jarang pula orkestra-orkestra tersebut mengadakan kerjasama dengan musisi dan kondaktor internasional.

Di samping menampilkan solis-solis internasional, kadang-kadang orkestra-orkestra tersebut juga mengundang musisi-musisi klasik Indonesia dari berbagai instrumen sebagai bintang tamu atau "solis dalam". Solis Indonesia yang pernah tampil dalam orkestra-orkestra klasik tersebut tidak hanya dari pemain-pemain instrumen orkestra seperti biola, klarinet, dan flute; tetapi juga instrumen-instrumen solo atau individual seperti piano, harpa, dan gitar.

Pianis dan komposer Indonesia yang pernah tampil dengan orkestra-orkestra klasik pada saat itu antara lain Tri Sutji Kamal dari Jakarta. Pada tanggal 23 November 1991, NCO mengundang gitaris klasik Andre Indrawan, untuk membawakan konserto gitar terkenal karya komposer Spanyol, Joaquin Rodrigo, berjudul Concierto de Aranjuez. Penampilan karya tersebut di antara beberapa karya orkestra yang lainnya dalam konser bulanan di Hotel Indonesia saat itu dipimpin oleh kondaktor tamu dari Singapura, Lim Yau, yang memiliki latar belakang instrumen mayor vokal.

Antara tahun 1985 hingga kira-kira tahun 1990 orkestra klasik yang para pemainnya berlatar belakang pendidikan formal musik juga turut memeriahkan panggung musik klasik Indonesia. Di antara orkestraorkestra tersebut ialah Orkes Simfoni ISI Yogyakarta yang beberapa kali tampil di Jakarta dan salah satunya di Gedung Kesenian Jakarta. Orkestra tersebut tidak hanya membawakan karya-karya simfoni, namun juga konserto dan beberapa karya musik Indonesia.

Sunday, October 20, 2013

Lirik Lagu Everything at Once - Lenka

Lirik Lagu Everything at Once - Lenka

Lirik Lagu Skyfall - Adele

Lirik Lagu Skyfall - Adele

This is the end
Hold your breath and count to ten
Feel the earth move and then
Hear my heart burst again

For this is the end
I’ve drowned and dreamed this moment
So overdue, I owe them
Swept away, I’m stolen

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together
At skyfall

Skyfall is where we start
A thousand miles and poles apart
When worlds collide, and days are dark
You may have my number, you can take my name
But you’ll never have my heart

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together
At skyfall

Where you go I go,
What you see I see
I know I’ll never be me, without the security
Are your loving arms
Keeping me from harm
Put your hand in my hand
And we’ll stand

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together

Let the sky fall, when it crumbles
We will stand tall
Face it all together
At skyfall

Let the sky fall
We will stand tall
At skyfall

Bruno Mars - It Will Rain Lyrics

Bruno Mars - It Will Rain Lyrics

If you ever leave me, baby,
Leave some morphine at my door
Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don't have it anymore.

There's no religion that could save me
No matter how long my leaves are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I'm making
Will keep you by my side
Will keep you from walking out the door.

Cause there'll be no sunlight
if I lose you, baby
There'll be no clear skies
if I lose you, baby
Just let the clouds,
my eyes will do the same if you walk away
Everyday, it will rain,
rain, rain

I'll never be your mother's favorite
Your daddy can't even look me in the eye
Oooh if I was in their shoes, I'd be doing the same thing
Saying there goes my little girl
walking with that troublesome guy

But they're just afraid of something they can't understand
Oooh well little darling watch me change their minds
Yea for you I'll try, I'll try, I'll try
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
That'll make you mine

Cause there'll be no sunlight
if I lose you, baby
There'll be no clear skies
if I lose you, baby
Just like the clouds,
my eyes will do the same if you walk away
Everyday, it will rain,
rain, rain

Ooooh Don't you say
goodbye, don't just say, goodbye
I'll pick up these broken pieces 'til I'm bleeding
That'll make it right

Cause there'll be no sunlight
if I lose you, baby
There'll be no clear skies
if I lose you, baby
Just like the clouds,
my eyes will do the same if you walk away
Everyday, it will rain,
rain, rain...
Share :

Kewirausahaan

Kewirausahaan

Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastianKewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya. Richard Cantillon (1775), misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian. Berbeda dengan para ahli lainnya, menurut Penrose (1963) kegiatan kewirausahaan mencakup indentfikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi sedangkan menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya dan menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan. Muncul pertanyaan mengapa seorang wirausahawan (entrepreneur) mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.
Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20.Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenadengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada.Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. DI Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang.